Sering kali ibu hamil cemas terhadap keadaan bayi yang dikandungnya. Hampir setiap ibu yang diperiksa kandungannya bertanya bagaimana keadaan bayinya apakah cacat atau tidak. Kekhawatiran seorang ibu tidak akan menyebabkan bayi cacat. Cacat pada bayi tidak disebabkan oleh perbuatan atau pikiran ibu sehari-hari selama kehamilan.
Penyebab cacat bayi (birth defect) sering tidak diketahui, sekira 0,5% sampai dengan 2% bayi dilahirkan dengan kelainan, cacat ringan atau cacat berat. Biasanya, cacat jantung ditemukan lebih sering, terjadi pada 1 dari 100 - 200 kehamilan, cacat jantung yang berat lebih jarang ditemukan.
Cacat lain yang sering ditemukan adalah bibir sumbing, juga dapat ringan hanya pada bibirnya saja atau berat sehingga belahan juga terjadi pada langit-langit. Faktor keturunan (genetik) sering diduga sebagai penyebab kecacatan yang tinggi, berdasarkan kelainan kromosom yang diturunkan, atau adanya jenis cacat yang sama pada garis keturunan. Faktor usia ibu (usia ibu yang > 35 tahun) juga meningkatkan kejadian cacat janin, terutama kejadian down syndrome (bayi dengan kelainan kromosom, menunjukkan cacat fisik dan mental).
Pada saat kehamilan, alkohol, narkotika, dan zat adiktif lainnya merupakan faktor penyebab cacat fisik dan mental janin. Beberapa obat jika diminum pada kehamilan muda diduga sebagai penyebab cacat. Kekurangan asam folat juga dapat meningkatkan kejadian cacat bawaan, terutama cacat yang menyangkut tabung syaraf
Cacat bawaan yang besar dapat diketahui pada saat pemeriksaan kehamilan. Namun, sering dokter tidak dapat mendeteksi cacat bawaan karena banyak kelainan bawaan yang tidak dapat terdeteksi oleh pemeriksaan USG, terutama cacat ringan atau cacat yang tidak menyangkut kelainan fisik. (oleh:Dr. dr. Sofie Rifayani K. Sp. O.G).
Kiat Menghindari Bayi Lahir Cacat
Kelahiran anak merupakan dambaan setiap keluarga yang tidak ternilai harganya. Diharapkan, kelahiran anak yang masih dalam kandungan bisa selamat, sehat dan tidak mengalami cacat apapun. Namun demikian, seringkali anak yang terlahir telah mengalami cacat sejak dari kandungan.
Pada umumnya, terdapat banyak faktor yang diduga berpengaruh selama ibu mengandung seperti halnya obat-obatan, kekurangan gizi, stres psikologik dan lahir prematur dapat berpeluang terhadap akibat bayi terlahir cacat mental ataupun fisik. Memang betul, bayi terlahir cacat tersebut merupakan suatu musibah yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetapi manusia diharuskan untuk menggunakan akalnya dalam upaya mencegah kejadian tersebut.
Selama janin berproses dalam kandungan, dari tahap pertama ke tahap berikutnya telah diketahui ada masa-masa peka. Pada masa ini, terdapat tahap tertentu yang sangat membahayakan bagi perkembangan janin. Jika pada masa peka ini terjadi benturan dengan zat-zat tertentu akan menyebabkan keguguran atau bayi terlahir cacat. Demikian halnya, jika selama kehamilan si ibu mengalami stres berat maka akan berpeluang besar terhadap proses kelahiran dan anak mengalami kelainan.
Kiat Menghindarinya
Dalam upaya menghindari bayi terlahir cacat maka setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh ibu hamil. Dan ini akan menentukan kesehatan atau cacat bayi sejak bulan pertama hingga akhir kehamilan.
Pertama, Hindari kebiasaan meminum obat tanpa sepengetahuan dokter. Biasanya ibu yang mengalami kehamilan, kondisi badan semakin lama semakin melemah. Ketegangan mental semakin meningkat sehingga timbul perasaan jengkel. Bagi ibu yang tidak bersabar, dengan sembarangan akan membeli dan meminum obat tertentu. Bahkan, banyak ibu hamil justru menyukai minum obat penenang, semisal thalidomit.
Sekilas memang obat penenang dapat menghindari beban stres kehamilan. Namun pemakaian obat penenang justru sebenarnya sangat membahayakan, menyebabkan cacat pada janin yang dikandungnya. Terutama sekali jika minum obat penenang tersebut sering pada minggu kelima dan minggu ketujuh.
Disamping itu, penyinaran rontgen yang berlebihan juga sangat membahayakan. Biasanya akibat yang akan dialami anak adalah gangguan terhadap gerakan-gerakan motorik. Semakin banyak penyinaran rontgen maka dampak yang akan ditimbulkanya semakin besar.
Kedua, Hindari ketegangan emosional. Di usia kehamilan yang semakin tua, pada umumnya ketegangan emosional semakin tinggi. Walaupun hal ini sulit untuk dihindarkan, namun setidaknya ada usaha yang kuat untuk untuk menghindarinya. Dalam hal ini terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fels sangat menarik untuk direnungkan.
Dalam hasil penelitianya ditemukan bahwa wanita hamil dengan susunan syaraf otonom yang labil, memiliki fetus-fetus paling aktif. Kondisi seperti ini akan menyebabkan ibu hamil mengalami ketegangan emosi, reaktif dan mudah tersinggung. Misalnya, jika suami mengancam hendak membunuh istrinya yang sedang hamil, karena tuduhan perselingkuhan. Dalam hal ini, akan sangat mengguncang kejiwaan istri. Akibat dari kegoncanagn emosi ini, biasanya anak akan terlahir dengan berat badan yang kurang dibanding dengan panjangnya. Pada perkembangan berikutnya, anak akan mengalami gangguan sulit makan.
Akibat lain, jika kegoncangan psikis ibu terjadi pada bulan pertama kehamilan. Biasanya anak akan terlahir dengan memiliki gangguan mental yang kurang normal. Gangguan ini biasanya disebut down syndrome. Sedangkan jika gangguan emosi terjadi pada bulan kedua kehamilan, maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan syndroma nafsu terhambat. Anak-anak yang demikian akan memiliki ciri apatis, pasif, dan tampak tidak bergairah.
Demikian halnya sebuah hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Thomas O Connor di Institute of Psychiatry - London sebagai berikut. Bahwa dari 7.000 ibu yang pernah mengalami stres saat kehamilan maka akan berdampak pada perkembangan anak. Sebanyak 15 persen anak yang terlahir menjadi hiperaktif.
Ketiga, Hindari kepercayaan takhayul. Di masyarakat tradisional masih sangat subur sebuah kepercayaan takhayul terutama yang berhubungan dengan kehamilan. Misalnya, jika ibu hamil membenci orang buta, maka anak yang bakal terlahir cenderung ikut buta. Contoh lain, jika saat istri hamil, suami dilarang membunuh ular. Sebab jika hal ini dilanggar maka anak yang akan terlahir cenderung kepalanya menyerupai ular.
Memang terdapat penelitian terhadap kepercayaan takhayul, namun sebisa mungkin ibu hamil harus tetap dapat mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya. Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan di laboratorium psikologi di Nijmogen Belanda. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebenarnya kepercayaan takhayul bagi ibu hamil muncul disebabkan dinamika sistem hormonal. Jika ibu hamil sangat mempercayai takhayul, maka hal tersebut akan mempengaruhi instabilitas hormonal yang akan merembet ke arah perubahan psikis. Setelah psikis goncang, maka akan merembet ke arah janin yang dikandungnya.
Sebuah kepercayaan takhayul lainya adalah kondisi ngidam. Dalam kacamata psikologi, bahwa ngidam sebenarnya hanya sebuah reaksi lain dari ketidakmenentuan emosi ibu dalam menghadapi kehamilan. Misalnya, ketika ibu hamil dan mengidam yang harus makan beras satu gelas setiap hari, kiranya hanya merupakan kondisi instabilitas emosi, yang seharusnya dapat dikendalikan. Jika hal ini dibiarkan tentu akan mengganggu kesehatan.
Disamping itu, terdapat kepercayaan takhayul lainya yang harus dihindari. Yakni, sebuah kepercayaan tradisional bahwa jika ibu hamil banyak membayangkan nenek atau famili sedarahnya yang telah meninggal dunia, maka anak yang terlahir akan menirunya. Kepercayaan takhayul ini disebut sebagai reinkarnasi atau titisan arwah. Hal tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Jika seandainya seorang anak membawa ciri fisik mirip kakek yang telah meninggal, sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah.
George Mendel, seorang ahli kandungan (ginekolog) telah menemukan dalam sebuah penelitian bahwa memang ada kecenderungan gen tertentu diturunkan. Misalnya, jika terdapat gen dari seorang kakek mendominasi, maka berpeluang untuk menurun pada cucunya. Hanya seberapa jauh kecenderungan penurunan tersebut tergantung pada prosentase gen yang terbawa dari kakeknya.
Keempat, hindari sikap penolakan terhadap janin. Bahwa sikap menolak terhadap kehamilan akan berpeluang terhadap kecacatan sikap dan perilaku anak kelak dalam hidupnya. Sebab, dengan adanya sikap penolakan maka akan berpengaruh terhadap cara pengasuhan yang semena-mena. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Geisser di Jerman Timur dan Sears di Amerika Serikat tentang sikap ibu hamil. Bahwa lebih dari 90 persen ibu yang menyukai janin yang dikandungnya, tetap terbawa hingga anak lahir dan besar.
Setelah mengetahui beberapa bahaya bayi dalam kandungan, seharusnya dijadikan pijakan. Ibu yang sedang hamil harus berhati-hati, kecacatan anak karena ulah orang tua akan berakibat fatal hingga di hari tua.
Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? (psikolog alumni Universitas Airlangga) (Oleh Baiturokhim).
Wednesday, August 29, 2007
Kecemasan Seputar Bayi Lahir Cacat
Saturday, August 25, 2007
Pentingnya Pengenalan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja
Masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja perempuan di Indonesia masih terabaikan. Ini terlihat dari banyaknya kasus kehamilan di luar nikah, kekerasan masa pacaran, dan aborsi dengan obat-obatan yang berisiko tinggi.
Definisi Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja.
Perkembangan Fisik
Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada pria daripada wanita, juga menandakan bahwa wanita lebih dahulu matang secara seksual daripada pria. Pencapaian kematangan seksual pada gadis remaja ditandai oleh kehadiran menstruasi dan pada pria ditandai oleh produksi semen. Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah androgen pada pria dan estrogen pada wanita, zat-zat yang juga dihubungkan dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah, tubuh, dan kelamin dan suara yang mendalam pada pria; rambut tubuh dan kelamin, pembesaran payudara, dan pinggul lebih lebar pada wanita. Perubahan fisik dapat berhubungan dengan penyesuaian psikologis; beberapa studi menganjurkan bahwa individu yang menjadi dewasa di usia dini lebih baik dalam menyesuaikan diri daripada rekan-rekan mereka yang menjadi dewasa lebih lambat.
Perkembangan Intelektual
Tidak ada perubahan dramatis dalam fungsi intelektual selama masa remaja. Kemampuan untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap. Psikolog Perancis Jean Piaget menentukan bahwa masa remaja adalah awal tahap pikiran formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan/deduksi. Piaget beranggapan bahwa tahap ini terjadi di antara semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman terkait mereka. Namun bukti riset tidak mendukung hipotesis ini; bukti itu menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul.
Perkembangan Seksual
Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun sejak tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja; studi akhir menunjukkan bahwa hampir 50 persen remaja di bawah usia 15 dan 75 persen di bawah usia 19 melaporkan telah melakukan hubungan seks. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tahu tentang, metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual (PMS). Akibatnya, angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat.
Perkembangan Emosional
Psikolog Amerika G. Stanley Hall mengatakan bahwa masa remaja adalah masa stres emosional, yang timbul dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas. Psikolog Amerika kelahiran Jerman Erik Erikson memandang perkembangan sebagai proses psikososial yang terjadi seumur hidup. Tugas psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang yang tidak tergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran problem emosional bervariasi antara setiap remaja.
Apa yang perlu diperhatikan dalam berdiskusi dengan remaja?
- Jangan menggurui.
- Jangan beranggapan bahwa kita lebih mengetahui sesuatu dibandingkan dengan remaja.
- Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengemukakan pandangannya.
- Berikan argumen yang jelas dan masuk akal terhadap suatu persoalan (jangan mengatakan…. Pokoknya…..).
- Berikan dukungan pada remaja bila mereka memang patut diberikan dukungan. Katakan salah jika mereka salah, dengan alasan yang masuk akal menurut ukuran mereka.Jadikan mereka sebagai teman diskusi bukan sebagai individu yang harus diberitahu.
